<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391</id><updated>2012-02-16T03:03:39.379-08:00</updated><title type='text'>MALTUF READY</title><subtitle type='html'>Jika umurmu tak sepanjang kehidupan, Maka menulislah.!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-2959453532452127506</id><published>2011-05-04T22:54:00.000-07:00</published><updated>2011-07-24T16:25:50.422-07:00</updated><title type='text'>Goresan Peristiwa</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;TUHAN, AKU(LAH) SETAN??&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sebuah Tafsir Imajiner tentang Ayat-ayat Setan)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Oleh: Malthuf Ready )*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SETAN, begitulah ia biasa dipanggil. Sebuah nama yang cukup unik namun memiliki banyak kelebihan. Dengan kelebihan itu, ia tidak pernah terlihat dan tidak pernah bisa dijangkau oleh makhluk yang bernama manusia. Konon, setan tercipta dari api yang berkobar, api yang panas namun dengan apinya manusia dan makhluk lainnya dapat bertahan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari Setan datang menemui Tuhannya. Raut wajahnya memerah. Sepertinya ia sedang marah dan kesel. Ia menemui Tuhannya untuk menuntut keadilan karena selama ini ia mengira bahwa Tuhan tidak pernah bersikap adil padanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan, aku ini harus bagaimana? Sebenarnya kesalahan apa yang melekat dalam diriku hingga manusia begitu membenciku, bahkan mereka selalu mengutukku disaat mereka hendak membaca ayat-ayat suci-Mu. Setiap kali mereka melakukan kesalahan atau berbuat dosa, mereka selalu menyalahkanku dan melimpahkan semua kesalahannya padaku padahal aku tidak pernah mengajak mereka untuk melakukan kesalahan atau berbuat dosa. Begitu hinakah diriku di mata manusia?. Jika memang kau tak sanggup menciptakan aku seperti manusia, janganlah buat aku terkutuk. Aku sebagaimana manusia, sama-sama makhluk ciptaanmu, hanya saja aku terbuat dari api yang berkobar, sedangkan manusia tercipta dari tanah liat. Bukankah dengan api manusia dapat bertahan hidup??.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan, aku sadar bahwa aku pernah sekali melakukan kesalahan. Kala itu kau menyuruhku untuk bersujud pada ciptaanmu yang bernama Adam, tapi aku tidak mau melakukannya karena aku takut men-dua-kan-Mu. Aku takut cintaku pada-Mu terbagi dengan keberadaan Adam. Aku hanya tidak ingin menyekutukan-Mu, Tuhan. Bukankah dulu kau pernah bilang bahwa menyembah selain kau adalah musyrik?. Kenapa justru kau mengklaim aku sebagai orang yang takabbur hanya karena aku tidak mau bersujud pada Adam. Jika memang semua itu adalah sebuah kesalahan, maka ampunilah dosa-dosaku. Aku sudah cukup menderita di negeriku yang terasing ini. Sebuah negeri yang penuh dengan kebencian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan, sebenarnya apa yang membedakan aku dengan Adam. Aku dan Adam sama-sama makhluk ciptaanmu, Sama-sama pernah melakukan kesalahan, dan karena kesalahan itulah kau mengasingkan aku dan Adam. Tapi kenapa di tempat pengasingan itu kau justru menjadikan Adam sebagai khalifah fil ardl. Sedangkan aku malah sebaliknya, aku harus menanggung beban kutukan dan kesalahan yang telah diperbuat oleh anak cucu Adam. Dimanakah letak keadilan-Mu, Tuhan?? Katanya, kau maha adil tapi kenapa kau selalu bersikap diskriminatif padaku. AKU, sama seperti Adam yang juga merindukan belaian kasih dan sayang-Mu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan, biarpun aku tercipta dari api yang panas, api yang berkobar, api yang selalu dipermainkan angin tapi aku akan selalu tetap menjadi damar yang menempel di dinding-Mu. Aku akan tetap menjadi abdi yang selalu setia pada-Mu namun jika aku tidak demikian, atau bukan siapapun, maka berilah aku KUN, niscaya aku akan jadi apapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SETAN meneteskan airmata dalam sujud terakhirnya. Rupanya ia menangis dan berharap suatu saat ia akan menjadi makhluk yang hidup tenang tanpa ada yang membenci dan mencelanya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-2959453532452127506?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/2959453532452127506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=2959453532452127506' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/2959453532452127506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/2959453532452127506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2011/05/tuhan-akulah-setan-sebuah-tafsir.html' title='Goresan Peristiwa'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-3047109556029948717</id><published>2011-01-27T21:44:00.000-08:00</published><updated>2011-01-27T21:47:03.947-08:00</updated><title type='text'>Opini</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sebuah upaya untuk membentuk karakter anak di sekolah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, dan tangguh maka peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sebaliknya, jika mayoritas karakter masyarakat negatif, dan lemah maka  mengakibatkan peradaban yang dibangun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi, masyarakat yang memiliki sifat jujur, mandiri, bekerja-sama, patuh pada peraturan, bisa dipercaya, tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal seperti kekerasan dimana-dimana, terorisme, korupsi semakin merajalela, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pendidikan harus terus didorong untuk mengembangkan karakter bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat sehingga pada gilirannya bangsa Indonesia akan mampu membangun peradaban yang lebih maju dan modem. &lt;br /&gt;Pembentukkan karakter (character building) mempunyai beberapa fungsi strategis untuk menumbuhkan kesadaran diri. Kecakapan kesadaran diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anggota masyarakat dan warga negara, sebagai bagian dari lingkungan, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikannya sebagai modal untuk meningkatkan diri sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungannya. Dengan kesadaran diri sebagai hamba Tuhan, seseorang akan terdorong untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, serta mengamalkan ajaran agama yang diyakininya. Pendidikan agama bukan dimaknai sebagai pengetahuan semata, tetapi sebagai tuntunan bertindak berperilaku, baik dalam hubungan antara dirinya dengan Tuhan, maupun hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. Kesadaran diri merupakan proses internalisasi dari informasi yang diterima yang pada saatnya menjadi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan diwujudkan menjadi perilaku keseharian. Oleh karena itu, walaupun kesadaran diri lebih merupakan sikap, namun diperlukan kecakapan untuk menginternalisasi informasi menjadi nilai-nilai dan kemudian mewujudkan menjadi perilaku keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecakapan kesadaran diri tersebut dapat dijabarkan menjadi: pertama, kesadaran diri sebagai hamba Tuhan diharapkan dapat mendorong yang bersangkutan untuk beribadah sesuai dengan tuntutan agama yang dianut, berlaku jujur, bekerja keras, disiplin dan amanah terhadap kepercayaan yang dipegangnya. Bukankah prinsip itu termasuk bagian dari akhlak yang diajarkan oleh semua agama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kesadaran diri bahwa manusia sebagai makhluk sosial akan mendorong yang bersangkutan untuk berlaku toleran kepada sesama, suka menolong dan menghindari tindakan yang menyakiti orang lain. Bukankah Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling menghormati dan saling membantu? Bukankah heterogenitas itu harmoni kehidupan yang seharusnya disinergikan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kesadaran diri sebagai makhluk lingkungan merupakan kesadaran bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai kholifah di muka bumi dengan amanah memelihara lingkungan. Dengan kesadaran itu, pemeliharaan lingkungan bukan sebagai beban, tetapi sebagai kewajiban ibadah kepada Tuhan, sehingga setiap orang akan terdorong untuk melaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kesadaran diri akan potensi yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sebenarnya merupakan bentuk syukur kepada Tuhan. Dengan kesadaran itu, siswa akan terdorong untuk menggali, memelihara, mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan, baik berupa fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, sejak dini siswa perlu diajak mengenal apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki (sebagai hamba Tuhan) dan kemudian mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki dan memperbaiki kekurangannya. Jika siswa menyadari memiliki potensi olahraga, diharapkan akan terdorong untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi olahragawan yang berprestasi. Demikian pula untuk potensi jenis lainnya. Walikelas, guru bimbingan konseling, guru bimbingan karier, bahkan semua guru perlu dan dapat berperan dalam mendorong siswa mengenal potensi yang dimiliki dan mengoptimalkan menjadi prestasi belajar.&lt;br /&gt;Kelima, kesadaran tentang pemeliharaan potensi diri (jasmani dan rohani) diharapkan mendorong untuk memelihara jasmani dan rohaninya, karena keduanya merupakan karunia Tuhan yang harus disyukuri. Oleh karena itu, menjaga kebersihan, kesehatan, baik jasmani maupun rohani, merupakan bentuk syukur kepada Tuhan yang dilakukan. Berbagai mata pelajaran dapat menjadi wahana pengembangan kesadaran diri seperti itu, misalnya biologi dan olahraga dapat menjadi wahana yang sangat bagus untuk kesadaran memelihara jasmani, sedangkan agama, kewarganegaraan, sastra dapat menjadi wabana pemeliharaan rohani. Sebagai bentuk syukur kepada Tuhan, potensi yang dikaruniakan kepada kita harus dikembangkan, sehingga setiap orang harus mengembangkan potensiyang dikaruniakanNya. Pengembangan potensi dilakukan dengan mengasah atau melatih potensi itu. Dan itu berarti setiap orang harus terus-menerus belajar.&lt;br /&gt;Jika kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan, sebagai makhluk sosial dan makhluk lingkungan, serta kesadaran akan potensi diri dapat dikembangkan akan mampu menumbuhkan kepercayaan diri pada anak didik, karena mengetahui potensi yang dimiliki, sekaligus toleransi kepada sesama teman yang mungkin saja memiliki potensi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, pendidikan karakter adalah berbeda secara konsep dan metodologi dengan pendidikan moral, seperti kewarganegaraan, budi pekerti, atau bahkan pendidikan agama di Indonesia. Pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the goog, and acting the good yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.&lt;br /&gt;Sedangkan pendidikan moral, misalnya kewarganegaraan dan pelajaran agama hanya melibatkan aspek kognitif (hafalan) tanpa ada apresiasi (emosi) dan praktik. Sehingga jangan heran kalau banyak manusia Indonesia yang hafal isi Pancasila atau ayat-ayat suci, tetapi tidak tahu bagaimana membuang sampah yang benar, berlaku jujur, beretos kerja tinggi, dan menjalin hubungan harmonis dengan sesama.&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini maka pendidikan harus mengandung tiga unsur: (a) belajar untuk tahu (learn to know). (b) belajar untuk berbuat (learn to do). (c). belajar untuk bersama (learn to live together). Unsur pertama dan kedua lebih diarahkan untuk membentuk having, agar sumber daya manusia mempunyai kualitas dalam pengetahuan dan keterampilan atau skill. Unsur ketiga lebih diarahkan pada proses being menuju pembentukan karakter bangsa. Kini, unsur itu menjadi amat penting. Pembangkitan rasa nasionalisme, yang bukan ke arah nasionalisme sempit, penanaman etika berkehidupan bersama, termasuk berbangsa dan bernegara; pemahaman hak asasi manusia secara benar, menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak, pengembangan sensitivitas sosial dan lingkungan dan sebagainya merupakan beberapa hal dari unsur pendidikan melalui belajar untuk hidup bersama. Pendidikan dari unsur ketiga ini sudah semestinya dimulai sejak Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi. Wallahu A’lam Bisshowab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-3047109556029948717?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/3047109556029948717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=3047109556029948717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3047109556029948717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3047109556029948717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2011/01/opini.html' title='Opini'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-6672041221541159105</id><published>2010-08-28T15:49:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T15:52:36.933-07:00</updated><title type='text'>Cahaya Hati</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEBELUM KAU PERGI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kau pergi&lt;br /&gt;Ku ingin kau tersenyum&lt;br /&gt;Di depan mataku yang rapuh&lt;br /&gt;Agar nantinya kau tak sedih&lt;br /&gt;Ketika menapaki jalan terjal dan berliku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kau pergi&lt;br /&gt;Ku ingin menulis selembar kisah&lt;br /&gt;Pada lembayung sukma jauh&lt;br /&gt;Agar ia menjadi saksi bahwa babad hari ini mengalun perih &lt;br /&gt;diantara kebisuan yang lestari,&lt;br /&gt;bersimpuh manis dalam dekapan hangat&lt;br /&gt;jubah nenek moyang yang dikebiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kau pergi&lt;br /&gt;Ku ingin mengenangmu&lt;br /&gt;dan terus mengenagmu&lt;br /&gt;Hingga malaikat itu hinggap di pangkuanku&lt;br /&gt;dengan sebait sabda yang tak bernada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MATA AIR AIRMATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pada mata airmu yang hening&lt;br /&gt;Pada airmatamu yang bening&lt;br /&gt;Ijinkan sejenak mataku memandang &lt;br /&gt;Tentang kepiluanmu&lt;br /&gt;Tentang asamu&lt;br /&gt;tanpa berkedip&lt;br /&gt;Hingga menembus ke dalam celah-celah sungai Nil-mu&lt;br /&gt;yang mulai mengering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEBUAH PENGKHIANATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kau tersenyum seperti iblis&lt;br /&gt;Yang berhasil membius manusia&lt;br /&gt;dengan segelas anggur&lt;br /&gt;Menghapus manis sentuh bibir yang pernah kau kecup&lt;br /&gt;mengurai cinta yang erat ku balut&lt;br /&gt;hingga lelah letih meredup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau goreskan kepedihan di setiap harapan&lt;br /&gt;Kau redupkan angan di setiap impian&lt;br /&gt;Hingga aku terhuyung arus penderitaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku akui….&lt;br /&gt;Kau memang tawaddhu’, tertunduk&lt;br /&gt;Tapi jidadmu bertanduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakmu sangat cerdik, tapi hatimu licik&lt;br /&gt;Jutaan manusia telah kau cekik dengan jemarimu yang lentik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-6672041221541159105?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/6672041221541159105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=6672041221541159105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/6672041221541159105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/6672041221541159105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2010/08/cahaya-hati.html' title='Cahaya Hati'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-3539499141401430611</id><published>2009-10-24T19:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-29T05:32:27.167-07:00</updated><title type='text'>Membendung Penegakan Syariah dan Khilafah di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;MEMBENDUNG  PENEGAKAN SYARI’AH DAN KHILAFAH &lt;br /&gt;DI INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh: Malthuf Ready )*&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun perbincangangan khilafah bukan hal yang baru, tetapi efek dan gejala yang ditimbulkannya tetap menjadi sesuatu yang hangat untuk diperbincangkan. Khilafah akhir-akhir ini menjadi tema pembicaraan aktual yang ramai di bahas dalam forum dan kesempatan, pembicaraan tersebut berusaha mendiskripsikan konsep khilafah dari berbagai sudut pandangan, tergantung dari motif yang mewarnai kepentingan mereka. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa waktu lalu kalangan politik dari partai politik Islam tertentu membuka perdebatan publik dengan tajuk upaya memasukkan kembali tujuh kata “...dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya“ ke dalam Preambule UUD 1945. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal tersebut memang terkesan sangat ahistoris, mereka seakan melupakan fakta sejarah bahwa perdebatan di parlemen tahun 1950-an tentang apakah Islam atau Pancasila yang “ seharusnya“ menjadi landasan konstitusi telah menguras segala daya bangsa ini. Diketahui bahwa kelompok Islam militan memiliki preferensi terhadap institusi khilafah dibandingkan dengan institusi kepresidenan yang dihasilkan oleh sistem ketatanegaraan modern, preferensi seperti itu berangkat dari  asumsi bahwa institusi khilafah memiliki otoritas kelembagaan yang secara hukum mengikat karena khilfah yang di buat dan dilakukan pada masa ideal Islam (the islamic era par-excellence) merupakan wujud dari sebuah tatanan politik ideal, dengan memberlakukan kembali institusi khilafah, maka kehidupan bernegara kaum Muslim di zaman modern ini akan berada di bawah payung kelembagaan politik Islam yang autentik, pandangan yang semacam ini tentu sangat sulit di carikan landasan argumentasinya, berbagai data historis menunjukkan bahwa khilafah sebenarnya tidak termasuk bagian dari doktrin keagamaan, tetapi kategorinya masuk ke dalam institusi sosial, sebagai institusi sosial, konsep khilafah selalu berubah secara dinamis, mengikuti dinamika sosial yang terjadi sekarang. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di Indonesia masih terjadi pro dan kontra tentang gerakan khilafah, ini bisa kita lihat pasca digelarnya konferensi khilafah internasional di Stadion Glora Bung Karno pada tanggal 12 Agustus 2007 lalu yang memicu terjadinya perdebatan, bagi yang pro yang menganggap bahwa syari’at Islam adalah solusi terhadap persoalan bangsa, sedangkan yang kontra malah sebaliknya semakin ‘gerah’ dengan adanya syari’at dan khilafah. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada beberapa hal yang sebenarnya sudah dilakukan mereka (Gerakan Pro syari’at). Mereka secara taktis sudah merasuki Umat islam dengan membawa bendera baru islam. Selain itu juga, mereka ada dalam ranah politik. Namun, mereka masih saja meresahkan adanya penghalang yang dapat membendung penegakan syari’at islam. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Faktanya, Jika dibuka lagi beberapa pernyataan dan rekomendasi dari lembaga think thank yang memberikan nasehat kepada pemerintahan AS, baik Nixon Center, Zeno Baran, The Haritage Foundation maupun ICG maka kita akan temui minimal 4 asumsi strategi yang mereka susun untuk membendung (tidak mendukung) gerakan Syari’ah di Indonesia. Asumsi ini ada dalam pandangan yang Pro terhadap syari’ah. Versi pembendungan gerakan syariah dilakukan oleh orang yang tidak sepakat Khiafah didirikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Pertama:&lt;/em&gt; Publikasi dan propaganda opini sekaligus pemikiran yang seolah-olah dari Islam namun sebenarnya sangat jauh dari pemikiran Islam, bahkan dikatakan tidak ada akarnya dalam Islam, seperti Hak Asasi Manusia (HAM), Feminisme, Pluralisme, dan lain-lain . Targetnya bukan hanya membuat rancu pemikiran Islam namun lebih dari itu, yaitu “melenyapkan“ Islam itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai contoh, munculnya pemikiran negara sekuler sebagai bentuk negara yang harus dipaksakan kepada seluruh kaum Muslim dan menyerukan penafian atau tidak mengakui kekhilafahan global (sistem pemerintahan Islam Global). Jelas ini adalah bentuk ‘pembunuhan‘  terhadap pemikiran Islam itu sendiri. Yakni menolak, sesuatu yang berasal dari nash namun di sisi lain mengajukan suatu argument yang tidak berasal dari nash namun di bungkus dengan dalil.  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Asumsi ini terkoptasi bagi para orang-orang pendukung syari’at islam, mereka masih menyangka bahwa islam tidak mengajarkan kebebasan dan Hak Asasi Manusia yang secara fitrah adalah Sunnatullah dan Nabi. Dalam alur Sejarah, Muhammad terlahir kedunia untuk memberikan hak-hak manusia kepada dirinya. Disatu sisi sang revolusioner dunia itu juga mengedepankan Hak Perempuan dalam ranah Islam. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagaimana rekomendasi The Nixon Center, bahwa untuk membendung gerakan syari’at perlu dilakukan pengajaran Islam dimana mengijinkan pemikiran sekolah non-Islam untuk diperkenalkan ke kaum Muslim Barat.  Selain itu juga di upayakan juga menciptakan ‘Ulama terdidik’, maksudnya adalah menciptakan ulama yang berasal dari Islam namun secara sejarah telah toleran. Ulama harus tahu bentuk tentang HAM, pluralisme, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan selayaknya bagi umat Islam Indonesia sudah harus mengetahui bahwa apa yang ada dalam al-Qur’an lebih banyak hal toleransi bukan memaksakan kehendak. Pada surat al-Kafirun Misalnya, merupakan ayat yang mengandung toleransi yang cukup tinggi. Tidak perlu bagi kaum muslimin untuk memaksakan suatu agama terhadap orang lain. Biarlah, agamaku (islam) dan agama  mereka (selain Islam). Ini menjadi bukti kongkret bahwa islam juga mengajarkan kebebasan dalam memeluk agama. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Asumsi islam tidak mengajarkan HAM dan lain sebagainya, seperti yang disangkakan adalah hal yang salah. Propaganda yang selayaknya dilakukan oleh orang Muslim adalah mebentuk opini bersama bahwasanya islam adalah agama toleransi dan al-Qur’an mengajarkannya. Cukup banyak contoh tentang hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kedua:&lt;/em&gt; Memunculkan tokoh-tokoh anti syari’at, baik dari kalangan sekuler maupun Islam. Dalam kasus ini, Amerika Serikat senantiasa mendorong penguasa untuk tidak saja menghancurkan Islam yang dianggap ‘radikal’ tapi juga mempromosikan alternatif-alternatifnya. Artinya, tokoh-tokoh pro syari'ah diberi stigma buruk, sedangkan yang menentang Syari’ah justru dipuji-puji. Pencitraburukan terhadap tokoh yang pro Syari’ah terus dan dilakukan. Walaupun sudah terbukti secara hukum bahwa Ust. Abu Bakar Ba’asyir –misalnya- tidak terbukti melakukan dan menjadi otak terorisme di Indonesia, namun upaya-upaya untuk melebelkan beliau dengan tindak terorisme masih terus dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Stigma agama teroris sebenarnya dibuat sendiri bukan malah negara atau konstruksi eropa atau Amerika. Pemahaman yang dangkal akan makna jihad adalah latar belakang terjadinya kekerasan berlabelkan agama. Contoh gampangnya adalah majalah serta seruan untuk berjihad. Di Idonesia ada Jihadmage  yang selalu memberikan arahan bagi umat Islam untuk ikut campur dalam hal peperangan yang sebenarnya bukan agama melainkan adalah persoalan Negara dan Politik ekonomi belaka. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Stigma lainnya, dikala para Ulama’ dengan jelas menyerukan penyerangan terhadap orang yang beragama lain. Ini terbukti dengan timbulnya tindak kekerasan yang melabelkan Jubah dan Baju putih. Greet Wilder menimbulkan Islam sebagai agama kekerasan, diakibatkan banyaknya imigran yang ada di sana, sehingga kekuasaan politik liberal akan tertindas. Tanpa ajaran toleransi dan memaksakan syariah dalam Negara yang terbentuk bukan negara islam maka hal nihil dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ketiga: &lt;/em&gt;klasifikasi kelompok Islam dan adu domba, klasifikasi yang dimaksud adalah untuk semakin mempersempit dan mengotak-atik Islam dan umatnya sehingga dengan mudah di adu domba. Seperti moderat-radikal, Tradisional-modern, kultural-struktural, fundamental-abangan dan masih banyak lagi lebel yang lain. Islam moderat akan mudah berhadapan vis a vis  dengan radikal, mereka dengan mudah disulut perselisihannya. Secara tegas, Ismail Yusanto (Juru bicara HTI) berpendapat bahwa syari’at Islam adalah solusi atas berbagai ancaman disintegrasi bangsa, sebab syari’at Islam akan menggantikan sekularisme. Di mana sekularisme sudah membuat celaka negeri ini. Justru yang mengancam adalah sekularisme dan kapitalisme global. Fakta sudah nyata, ukhuwah justru akan mensolidkan negara dari ancaman separatisme yang mengancam. Bentuk separatisme, seperti RMS dan papua merdeka itu yang mengancam, bukannya Khlafah. Khilafah malah akan menyelamatkan NKRI dari kehancuran. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lagi-lagi ini adalah asumsi pendorong Syari’at di Indonesia. Labeling islam di Indonesia adalah penelitian (research) tersendiri dalam ranah sosial dan ilmiah. Dalam Islam, sebenanya sudah banyak kelompok-kelompok islam yang mempunyai epistemologi berbeda dalam menafsiri dan mengartikan al-Qur’an. Pasca nabi wafat, Syi’ah dan ahlusunah wal jama’ah mempunyai metodologi tersendiri. Syi’ah, mu’tazilah  cukup kuat dalam akalnya, sedangkan ahlussunah cukup kuat dengan treferensi al-Qur’an. Labeling yang disangkakan akan menjadi gangguan terhadap kaum Muslim juga sama diciptakan sendiri oleh kaum Pro syari’ah. Apa yang dilakuka para peneliti merupak deskribing bagi umat islam memilih dan memilah keberagamannya. Penelitian itu juga dilakukan untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat layaknya, lebih banyak mengetahui sebuah tendensi perilaku sosial. Sama seperti yang dikatakan Emile Durkheim, kesadaran kolektif tidak akan terbangun kalau hanya dibangun oleh satu agen. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menganggap khilafah penyelamat NKRI juga sudah salah. Kekhawatiran yang terjadi bagi Umat Islam yang ada di Indonesia adalah NKRI merupakan pemersatu bangsa sekaligus agama. Tidak mungkin kemudian digantikan Khilafah atau syari’at islam yang didalamnya akan ada aturan pengikat antara agama yang satu dengan yang lainnya. Di dalam islam masih ada istilah kafir dzimmi dan harbi. Namun, Indonesia tidak mempunyai itu. Sikap pemerintah mengunakan model sekularisme adalah hal yang cocok buat indonesia. Ini bukan arab yang semuanya ber-agama islam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di Mekkah nabi Muhammad membawa islam sebagai agama minoritas disaat itu pula Nabi melakukan Hijrah Ke madina. Di madina Nabi tidak serta merta menciptakan negeri dengan bendera khilafah, melainkan membuat Undang-Undang Madinah (piagam Madinah) yang diakui membumikan sebuah toleransi di sana.    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keempat : peran negara, melalui beberapa peraturan dan Undang-undang yang dikeluarkan yang sangat kontraproduktif dengan Islam, seperti wacana kembali ke azaz tunggal (Pancasila), UU Teroris, UU KDR, RUU Pornografi, RUU Politik, dan lain-lain.  Founding father Indonesia, Soekarno memang sudah mencetuskan pancasila sebagai azas tunggal. By unity pancasila mereka bisa berkumpul dan berada dalam forum sama tanpa meresahkan dirinya sendiri. Negara mengembalikan azas Indonesia kepada Pancasila bukan berarti melanggar aturan Islam. Namun, negara kita adalah sebagai negara Islam.    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Siapa Membendung siapa ?&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan semangat kebangkitan nasional dan hari lahirnya pancasila. Seraya mengingatkan kita, untuk menghidupkan kembali bahwa indonesia terbangun bukan dari Islam, melainkan satu asaz kesamaan yang berindikasikan sebuah kehidupan majmuk dan pluralis. &lt;br /&gt;Memaksakan Indonesia menjadi islam adalah nihilisme belaka. Tidak mungkin kemudian islam akan berjaya kalau hanya dibanggakan melalui satu arah normative belaka. Pasalnya, islam mempunyai ajaran yang cukup universal. Bukan yang selalu disangkakan untuk dapat menolak bentuk konsep subuah negara. Indonesia adalah contoh bagus, bagaimana keberagaman sangat dihargai bukan keseragaman yang diinginkan. Undang-Undang sudah menekankan bahwa kebebasan adalah hak setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah Ahmad Na’im adalah tokoh Kontemporer dalam ranah pemikiran Islam, dalam pemikirannya dia mengutip banyak tentang pemikiran Taha yang salah satunya adalah menyetujui untuk mengabaikan ayat madaniyah dan mendahulukan ayat-ayat makkiyah. Karena dalam ayat-ayat makkiyah mengandung pesan Abadi dan Fundamental yang menginginkan egalitarianisme seluruh umat manusia. Jelas, sangkaan Islam tidak mengajarkan kesamaan dan pluralisme tidak bisa kita lihat dalam kondisi di Madinah yang sudah menguasai dan menciptakan kekuasaan sebagai bentuk negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Islam tidak mengajarkan HAM, Feminisme, Pluralisme agama ini semuanya ditunjukkan dalam ayat-ayat madaniyah. At-Taubah : 29, An-Nisa’ : 34, al-Anfal : 39. Semua ayat ini merupakan landasan bagaimana kemudian islam diartikan sebagai agama yang tidak relevan dalam bentuk Hukum banyak visualisasi dan lain sebagainya. Padahal kalau melihat ayat-ayat makkiyah, Islam berada dalam kondisi yang cukup kuat untuk dapat menerima. Isue nabi Muhammad mengangkat derajar Perempuan, Mengembalikan Hak-Hak Manusia. Serta keseragaman tanpa pemaksaan untuk menganut Islam. Indonesia juga sama mempunyai hubungan internasional yang cukup kuat dengan negara lainnya, tidak lah sama pada keadaan di Madinah. Menggunakan Sistem Khilafah akan membuat blunder keagamaan. Karena Hukum islam masih banyak yang deskriminatif. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fungsi negara Indonesia saat ini adalah mewaspadai keberadaan Negara dibawah kuasa negara (negara Islam, meski hanya berbentuk organisasi kecil layaknya NII,). Para umat islam yang mau membedakan keberadaannya, selalu akan memaksakan idea khilafah. Publikasi dan opini parsial malah lebih banyak dilakukan oleh mereka ketimbang publikasi yang dilakukan penyokong pluralisme. Sebut saja, rekrutment masa lebih banyak dilakukan orang-orang kanan (penyokong khilafah) ketimbang para pengikut Islam ala Indonesia. &lt;br /&gt;Publikasi pada setiap jum’at dan pemberian ceramah sudah banyak dilakukan dengan rekonstruksi opini bahwa kebobrokan Indonesia karena masih bergantung pada negara orang salib (eropa amerika) dan saat Islam berdaulat. Padahal, kedaulatan negara berada dalam kedaulatan Pancasila dan Undang-Undang Negara bukan pada Islam. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya, dalam kasus ini, Pancasila harus tetap terjaga untuk menjadi alat integritas sosial, layaknya yang sering dikomandangkan para Tokoh agama, Frans Magnis Saat di Interview Al-Fikr, dia mengatakan bahwa cukup pancasila saja. Sedangkan Gus Dur malah mengherankan Gerakan menggantikan Asaz kesatuan dengan Agama. Begitu pula Nurcholis Madjid yang mengatakan bahwa Islam &lt;em&gt;Yes&lt;/em&gt;, Syari’ah &lt;em&gt;No.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebangkitan Indonesia benar-benar akan menjadikan negara Indonesia sebagai negara kesatuan, anti kekerasan baik agama dan ultimatum kebebasan berpendapat dan berekspresi sesuai Undang-Undang dan Pancasila yang menyediakan keadilan bagi seluruh rakyat, tanpa mempertimbangkan dari kalangan, agama serta minoritas atau mayoritas. Lahirnya pancasila, juga menjadikan ingatan bahwa Indonesia sudah punya identias negara dan tidak perlu memberikan identitas baru bentuk Khilafah Islam atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;)* Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura. Saat ini menjabat sebagai Koordinator Lingkar Pena Mahasiswa Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-3539499141401430611?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/3539499141401430611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=3539499141401430611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3539499141401430611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3539499141401430611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2009/10/rumahopini.html' title='Membendung Penegakan Syariah dan Khilafah di Indonesia'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-8473096712753582885</id><published>2009-05-23T10:50:00.001-07:00</published><updated>2009-05-23T11:25:09.489-07:00</updated><title type='text'>Rumah Cerpen 04</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Dear: M  I  L  A&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;Oleh: MALTUF READY&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;MILA, begitulah orang-orang di sekelilingnya memanggil namanya. Sebuah nama yang cukup sederahana sama seperti kepribadiaan yang dimilikinya. Sikap yang lemah lembut, ramah, suka menolong orang lain merupakan ciri khasnya. Ia selalu tampil apa adanya. Tidak seperti gadis-gadis lain pada umumnya. Namun orang-orang di sekitarnya begitu menyayanginya, lebih-lebih keluarganya. Mereka memperlakukan Mila sama seperti anak perempuannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ayahnya pergi, ibunya mengalami gangguan kejiwaan. Ia depresi. Oleh karenanya, Mila harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya karena ia adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Kedua saudaranya masih kecil. Tidak tahu apa-apa. Meskipun usianya masih terlalu muda namun Mila harus mengemban beban hidup yang cukup berat. Ia harus membiyayai sekolah adik-adiknya, juga harus membiyayai pengobatan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kebiasaannya, setiap pagi, Mila pergi ke sawah yang ia miliki. Ia bekerja layaknya petani pada umumnya. Bekerja keras di bawah terik matahari yang menyengat. Ia tidak kenal lelah meskipun sesekali ia berhenti untuk mengelap keringatnya yang berleleran di dahi dan lehernya dengan ujung baju lengan panjang yang kini tampak agak basah oleh keringatnya. Caping petani dengan setia bertengger di kepalanya. Senyum terukir sekilas pada ujung bibirnya saat matanya memandang tak sengaja pada sebuah pohon pisang yang berdiri tegak di ujung lahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa siang telah tiba.  Mila segera berkemas untuk pulang meskipun pekerjaannya belum terselesaikan. Tak terlihat sedikitpun rasa lelah meskipun wajahnya tampak kumuh dan berantakan. Ia tetap bersemangat dan tegar untuk melanjutkan pekerjaan yang ada di rumahnya. Bahkan ia melakukan pekerjaannya dengan senang hati. Begitulah hari-hari yang dilaluinya penuh dengan kesibukan hingga tak ada waktu luang untuk beristirahat di siang hari. Tuhan, berikan aku kemudahan untuk melakukan apapun yang aku inginkan. Katanya.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Suatu hari, Mila tidak kembali ke rumahnya. Saudara-saudaranya menangis tersedu-sedu. Maklum mereka masih terlalu kecil. Sementara ibunya tak bisa berbuat apa-apa karena dia masih shock sejak ditinggal pergi oleh suaminya. Orang-orang disekitarnya berduyun-duyun mendatangi sebuah rumah kecil yang menjadi tempat tinggal Mila sekeluarga. Mereka tampak panik. Seperti halnya seorang ibu yang sedang mencari anaknya. Mereka hanya saling bertanya antara yang satu dengan yang lain. Namun tak ada yang tahu dengan keberadaannya. Lalu orang-orang yang berada disana tak berpikir panjang lagi, Mereka langsung menuju sebuah tempat di mana Mila bekerja, tapi mereka tak dapat menemukan apa yang mereka cari. Tak lama kemudian, kabar tentang hilangnya Mila sudah menyebar ke seluruh pelosok di desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Mila, kau dimana?.” Ucap adiknya seraya menangis. Isak tangisnya mengalun perih diantara rumah kecil yang tak begitu lestari. Bersimpuh pahit dalam dekapan hangat seorang ibu yang tengah mengalami depresi. Ia tak dapat berbuat apa-apa selain menangis. Tiba-tiba seorang perempuan setengah baya menghampirinya. Perempuan setengah baya itu adalah bu Nur, seorang janda yang sudah bertahun-tahun ditinggal suaminya. Ia memiliki nasib yang sama seperti ibunya Mila. Namun ia tidak memiliki keturunan. Oleh karenanya, perempuan itu begitu menyayangi Mila dan adik-adiknya. Bahkan perempuan itu menganggap mereka sebagai anaknya sendiri. “Sudahlah Nak! Sebentar lagi kakakmu pasti akan pulang”. Katanya sambil mengelus-ngelus rambutnya.&lt;br /&gt;Esok harinya, terdengar kabar dari seorang pengembala kambing. Katanya, ada seorang perempuan terbaring di sebuah hutan kecil yang tak jauh dari perkampungan itu. Ia terkulai lemas tanpa busana sehelaipun. Warga yang ada di perkampungan itu panik mendengarnya, lebih-lebih kerabat Mila. Dengan segera, mereka berbondong-bondong menuju ke hutan itu. Setelah sampai di hutan, mereka melihatnya dengan mata terbelalak setengah tidak percaya. Ternyata perempuan di hutan itu adalah Mila. Mila yang sejak kemarin hilang. Di sekitarnya terdapat bekas-bekas pemerkosaan. Entah siapa yang memperkosanya. Tak ada yang tahu. Lalu, beberapa orang diantara mereka segera mengangkat tubuh Mila dan membawanya pulang ke rumahnya. Di rumahnya, Mila disambut dengan tangis yang menderu-deru. Kedua adiknya yang masih kecil histeris. Sementara ibunya terlihat lemas, tak berdaya. Kelopak matanya basah lalu mengeluarkan pilu yang menurut bangsa keturunan primata seperti manusia, dinamakan airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sepi menyelimuti rumah itu. Langit tidak tampak cerah. Angin berdesir perlahan dengan sayup-sayup tidak menggairahkan. Semua orang yang ada di rumah itu terdiam. Membisu. Namun, mereka tetap setia menunggu Mila terbangun dari mimpi buruknya. Di dekatnya, bu Nur menjaganya sambil membelai-belai rambutnya yang lurus terurai.&lt;br /&gt;“Mila, Kenapa harus namamu yang tertulis dalam lipatan takdir Tuhan. Kenapa pula di usia muda ini kau harus bersahabat dengan musuh semua perempuan. Perempuan manapun tidak akan pernah menginginkan terlibat dalam cerita kesengsaraan ini. Bila kau menuturkan bahwa babad hari ini mengalun perih diantara kehidupan yang telah dikebiri. Semoga kau tetap tegar dan sabar dalam mengarungi kehidupan ini.” Bu Nur berkata dengan nada lirih. Wajahnya tampak memerah.  Seolah ia ingin melampiaskan sesuatu pada orang yang telah membuat Mila terbaring tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang sore, Mila kembali sadar. Ia siuman. Semua yang ada di tempat itu sedikit lega meskipun hatinya tersayat-sayat. Dengan segera mereka langsung meghampiri Mila untuk menanyakan keadaannya. Tapi, Mila malah berteriak dan menutup wajahnya dengan jari-jarinya. Jangan…jangan…jangan!!. Ucapnya. Tampaknya ia mengalami trauma dengan kejadian yang telah menimpanya kemarin. lalu dengan segera bu Nur menghampirinya. “Mila, ini bu Nur,!.” Katanya seraya menenangkan.&lt;br /&gt;Rasa kecewa selalu datang ketika hidup ini berbenturan dengan realitas. Sama halnya dengan kehidupan yang tengah di jalani Mila saat ini. Hari-harinya berubah pucat pasi. Tak ada gairah dalam hidupnya. Ia selalu murung. Harapannya untuk menjadi seorang perempuan telah memudar. Semuanya telah hancur. Ibarat kerajaan yang tengah mengalami kekalahan akibat pertahanan terakhirnya telah hancur lebur.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pagi itu matahari belum menampakkan semburat sinarnya. Tampaknya sang surya masih terlelap di peraduan angkasanya. Kabut semi transparan juga masih menguasai sebagian badan jalan. Tetes embun belum memuai menjadi uap air dan menyatu dengan udara, menyebabkan udara makin lembab. Sayup angin seakan menguak sebab keheningan di beberapa lorong sempit di perkampungan tersebut. Makhluk-makhluk belum menampakkan diri. Masih bersemayam di balik selimut kehangatan.&lt;br /&gt;Tiba-tiba seperti ada yang menggiring Mila untuk melangkah. Ia tidak tahu pasti apakah ia berjalan di atas tanah, atau di udara. Yang ia rasakan tubuhnya begitu ringan, seolah melayang-layang. Lalu, ia tiba di suatu tempat, entah dimana. Ia tidak mengenalnya. Ia tercengang di tempat itu. Ia berdiri bak patung di tengah kota. Tatapannya tertuju pada sebuah bukit kecil yang tak jauh dari pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak adil padaku.” Teriaknya dengan lantang. Entah kepada siapa ucapan itu ditujukan. Tak ada yang tahu selain Tuhannya. Pada bibirnya tersungging kekecewaan yang begitu mendalam. “Kenapa Kau ciptakan takdirku seperti ini. Nasibku merana menjadi hamba terhina. Apa Kau tidak melihat perbuatan mereka padaku.” Lanjutnya. Ia diam sesaat, mengatur tingkat emosi yang semakin meluap-luap dalam dirinya. Sesekali ia mengusap matanya dengan punggung tangannya.&lt;br /&gt;“Kenapa kau tetap diam. Apa kau bisu, tuli. Katanya, kau selalu mendengarkan keluh kesah semua hamba-Mu. Mana buktinya. Jika Kau memang adalah Sang Penguasa raja di atas segala raja, buktikan padaku!”. Teriaknya makin kencang. Kini, Mila berubah drastis. Dulunya dikenal sopan, ramah dan suka menolong orang lain tapi saat ini ia begitu hingar-bingar. Tidak seperti Mila yang tinggal di perkampungan itu. Tampaknya ia tidak terima dengan kenyataan buruknya. Ia tidak sanggup lagi untuk mengangkat wajahnya di depan orang lain. Tangis dan teriakannya tak ada gunanya karena tak akan bisa mengembalikan tubuhnya ke kondisi semula. Ia merenung beberapa menit ke depan ketika matahari kian meninggi. Dengan tenang ia kemudian menatap awan yang berkelebat di atasnya. Lalu, dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya ke sebuah jurang yang terletak di samping kirinya. Ia merengang. Tubuhnya tergeletak bermandikan darah. Darah itu kemudian mengalir ke seluruh penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Surabaya, 220509&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-8473096712753582885?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/8473096712753582885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=8473096712753582885' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/8473096712753582885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/8473096712753582885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2009/05/rumah-cerpen-04.html' title='Rumah Cerpen 04'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-3164884934325216780</id><published>2009-05-16T21:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T21:52:13.582-07:00</updated><title type='text'>Rumah Cerpen_02</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;KETIKA HIDUP  HARUS DIPERTAUTKAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Oleh: Maltuf Ready *&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kehidupan ini begitu membosankan. Orang-orang di sekeliling aku selalu mentertawakanku, mengejekku. Katanya, aku stres, gila dan sebagainya. Aku tak tahu apa tujuan mereka menghinaku seperti itu. Sejenak, aku mulai memperhatikan seluruh pakaianku, penampilanku, biasa-biasa saja. Tidak seperti layaknya orang gila. Apa sebenarnya yang salah dalam diriku. Aku benar-benar bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, aku mengalami nasib yang sama seperti kemarin. Tapi kali ini aku benar-benar jengkel dan dibuatnya marah. Marah karena mereka begitu antusias untuk menghujatku, mempermalukanku di depan umum hingga aku tak sanggup lagi mengangkat wajahku. Aku menjadi terasing di negeriku sendiri. Entahlah, hanya tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Aku hanya bisa berharap suatu saat aku bisa menggapai sejuta keinginan dari sisa hidupku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak akan pernah bisa menggapai kesmpurnaan itu, karena kesempurnaan hanya milik tuhan”. Ia berkata dengan acuh tak acuh. Pada bibirnya tersungging senyum tipis seolah menyimpan tawa melihat keberadaanku. Aku hanya terdiam. Aku tak kuasa berontak karena aku hanya seorang diri, sementara mereka sudah menjadi komunitas kecil yang disegani banyak orang. Katanya, komunitas itu merupakan tempat berkumpulnya orang-orang cerdas. Kuakui, mereka memang cerdas karena mereka rajin membaca buku dan berdiskusi. Tapi aku tak suka dengan keberadaannya karena mereka seringkali mendahulukan egoisitasnya daripada intelektualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, menjenuhkan sekali hari ini. Aku tak pernah bermimpi sebelumnya kalau semua ini akan terjadi seperti ini. Aku tak habis pikir, Kenapa mesti aku yang disalahkan. Kuakui, dulu, aku memang pernah menjadi bagian dari komunitas itu, tapi sekarang aku harus pergi untuk menggapai cerahnya masa depanku. Aku meninggalkan mereka hanya untuk mencari esensi kehidupan. Salahkah bila aku menentukan hidupku sendiri demi kesempurnaan hidup. Salahkah pula bila aku menempuh jalan yang berlainan tapi tujuannya sama. Memang, kita dilahirkan dari ibu yang sama, yakni ibu pertiwi. Tapi akankah kita harus sama dalam segala hal. Bukankah Muhammad dahulu pernah bilang, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Perbedaan-lah yang bisa membuat hidup ini terasa lebih indah. Apakah kau tak merasakan itu? Gumamku.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tiga hari kemudian, sehabis kuliah, tiba-tiba aku dipanggil seorang lelaki ke salah satu kantor UKM di kampusku. lelaki itu adalah Andri yang merupakan manajer di komunitas itu. Di sampingnya, duduk seorang lelaki berambut agak panjang. Ia adalah sekretarisnya yang selalu setia menemani Andri kemanapun ia pergi. Aku kenal meraka sejak pertama kali aku mengikuti diskusi pada pertangahan tahun 2007 lalu. “Akhir-akhir ini kau semakin aneh, apa yang sebenarnya terjadi? Katanya sambil membetulkan duduknya. Aku hanya terdiam. Aku tak bisa mendongakkan  kepala karena bagaimanapun pasti aku yang salah di mata mereka. Dan bahkan mereka akan mengecapku sebagai pengkhianat karena aku telah melanggar komitmen yang telah disepakati bersama. “Kenapa kau nekad lari dari komunitas kami. Apakah kau bisa menjamin hidupmu akan lebih baik setelah kau keluar dari komunitas yang telah kita bangun bersama dengan susah payah?”. Lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah bimbang dengan tekad yang kupilih karena ini adalah hasil ikhtiarku. Aku pergi karena aku menginginkan kesempurnaan hidup. Aku ingin mengejar cita-citaku. Salahkah bila aku menginginkan yang terbaik buat aku, kita, bangsa dan negara. Tidakkah kau ingat pesan para leluhur kita, bahwa kita adalah penerus bangsa dan negara, dan di tangan kita tergenggam arahnya. Kita hidup di dunia ini dengan mengemban berjuta-juta tanggung jawab. Sadarkah kau akan hal itu?”. Ucapku seraya meyakinkan. Kulihat lelaki yang tidak lain adalah Andri itu hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya. Sepertinya, ia sudah mulai paham dan menerima semua penjelasanku. Hatiku lega seketika, ternyata Andri masih tetap bijaksana seperti dulu. Seperti halnya ketika aku masih menjadi bagian dari komunitasnya. Andri memang sosok yang bijaksana. Ia tidak pernah pilih-pilih teman. Dan juga tidak pernah memihak ke siapa-siapa ketika aku tersangkut masalah dengan teman-temannya. Ia selalu menjadi penengah dalam setiap persoalan. Oleh karenanya, ia disukai banyak orang, khususnya mahasiswa yang kuliah di kampus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dipikir-pikir, perkataanmu ada benarnya juga. Kita memang belum sempurna dalam segala hal. Jadi, apa salahnya kalau kita mencoba membenahi diri untuk mencapai kesempurnaan hidup”. Ucap lelaki yang duduk di samping Andri. Lelaki itu seolah membenarkan semua penjelasanku. Kulihat ia hanya tersenyum tipis. Sesekali ia meminum kopi yang ada di depannya. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Diambilnya satu   batang lalu ditaruh di bibirnya. Dari saku celananya ia mengambil korek api dan membakar rokok itu. Setelah itu ia meletakkannya tepat di depanku.&lt;br /&gt;“Memang benar sih tapi kita harus tahu satu hal, ketika kesempurnaan menjadi tuntutan utama, ketika itu pula ketidaksempurnaan akan dipertanyakan. Namun ketidaksempurnaan itulah yang harus dicintai dengan sempurna. Pernahkah kita berpikir sempurna ketika ketidaksempurnaan itu harus dipertautkan?”. Andri melanjutkan pembicaraannya. Ia mencoba menjadi penengah. Dari nada bicaranya sudah mulai kelihatan bahwa ia adalah sosok yang bijaksana dan berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana ruangan tiba-tiba sepi. Tak ada yang berani angkat bicara setelah mendengar perkataan Andri tadi. Aku tertunduk sembari mengangguk-anggukan kepala. Aku tak tahu siapa sebenarnya yang benar dan siapa yang salah. Aku sebagai manusia tentunya masih jauh dari sempurna. Aku telah meninggalkan sesuatu yang menurutku tidak sempurna karena aku hanya menginginkan yang sempurna tapi mungkinkah aku dapat meraihnya. Bukankah ketidaksempurnaan itu harus kita cintai dengan sempurna seperti yang dikatakan Andri tadi. Aku bingung. “Tuhan, dekatkan aku pada sesuatu yang mendekati kesempurnaan.” Ucapku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa waktu sudah sore. Cakrawala di hiasi gugusan warna kuning keemasan. Saat itu kulihat matahari sepertinya sudah mulai beranjak ke peraduannya. Andri dan sekretarisnya masih tetap terdiam. Aku tak punya keberanian untuk intrupsi, padahal aku ingin pulang ke kost karena aku belum melaksanakan kewajibanku sebagai warga muslim yang taat. “Sudahkah kau shalat ashar?”. Tiba-tiba suara Andri memecah keheningan. “Kalau memang belum shalat, shalat disini saja karena sebentar lagi adzan maghrib”. Lanjutnya. Aku hanya menganggukkan kepala ketika ditanya oleh Andri. Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju kamar mandi yang terletak di pokok kiri ruangan. Aku berwudlu’ lalu shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai shalat, Andri memanggilku. kemudian dengan segera aku kembali ke tempat yang tadi. Katanya, masih ada yang ingin dibicarakan. Aku langsung duduk di depannya. “Apa yang kau rencanakan selanjutnya, apakah kau tetap pada pendirianmu untuk meninggalkan komunitas ini?”. Tanya Andri. Aku hanya tertegun. Mulutku tiba-tiba kelu katika dihadapkan pada dua pilihan yang menurutku sama-sama baik. Aku bingung harus pilih yang mana. Dalam hati aku cendrung lebih memilih keluar dari komunitasnya tapi konsekwensinya mereka akan memusuhiku, menghinaku seperti kemarin-kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapatkah kau mengabulkan permintaanku?. Aku tak akan keluar dari komunitas ini asalkan aku boleh menentukan jalan hidupku sendiri. Jujur, aku merasa terkekang sejak aku bergabung dalam komunitas ini. Seolah-olah aku didoktrin untuk mengikuti ideologi mereka. Aku tidak suka ada pemerkosaan karakter seperti itu”. Andri tertegun mendengar permintaanku. Raut wajahnya tampak lesu, seolah ia keberatan dengan segala keputusanku. Begitu pula dengan lelaki yang duduk di sampingnya. Ia tak berkomentar apa-apa. Dalam hatinya mungkin menggerutu. Ia hanya memandangi Andri dengan tatapan bingung. Hening. Tak lama kemudian Andri mulai angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberadaan komunitas ini masih jauh dari yang kita harapkan. Ia ibarat sebuah bangunan. Tak akan berdiri kokoh kalau kita mengecornya dengan amarah. Kehidupan ini memang absurd. Tidak bisa ditebak dan diukur panjangnya. Begitu pula dengan manusia. Ia juga absurd karena tidak bisa ditebak nasibnya. Haruskah kita mempertautkan itu untuk kepentingan diri sendiri?”. Tegasnya. Aku lega seketika dengan keputusannya yang terakhir ini. Ternyata mereka masih bersedia menerimaku kembali. Terima kasih, Tuhan!. Mungkin ini anugerah terbaik yang kau kirimkan untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;i&gt;Penulis adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Saat ini aktif pada Forum Pecinta Satra dan Seni (FORSENI) di Surabaya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-3164884934325216780?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/3164884934325216780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=3164884934325216780' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3164884934325216780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3164884934325216780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2009/05/rumah-cerpen02.html' title='Rumah Cerpen_02'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-8065927962506441289</id><published>2009-03-28T03:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T21:58:13.257-07:00</updated><title type='text'>Rumah Opini_01</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;KALKULASI KEPENTINGAN DENGAN TERMA TERORISME&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Oleh: Maltuf Ready*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Hal yang terpenting tentang Islam adalah bahwa kita harus membedakan dua wajah Islam. Pertama, lembaga Islam. Kedua, budaya Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;(Gus Dur)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Stigma terhadap Islam sebagai agama kekerasan, teror, anti-HAM, anti-demokrasi, dan lain sebagainya, menjadi afirmatif ketika mendapat momentum pasca-peristiwa 11 September dulu dan realitas kebanyakan dunia Islam yang dipimpin oleh kekuasaan otoriter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Perspektif barat terhadap Islam yang penuh deskripsi peyoratif merupakan generalisasi yang salah kaprah, sekaligus kegagalan memahami peradaban Islam secara holistik. Banyaknya aksi yang tidak adil terhadap umat Muslim di negara-negara Barat tidak lain bermula dari akar masalah persepsi yang timpang ini. Diskriminasi sosial yang sering menimpa sebagian umat Islam di dunia Barat adalah akibat korelasi pemahaman yang masih menyimpan trauma bahwa Islam mengajarkan kekerasan, ketidakadilan, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dalam perspektif Barat, Islam erat kaitannya dengan model agama yang mendidik terorisme dan kekerasan. Munculnya tesis orientalis semacam Bernard Lewis yang melihat sisi buruk Islam politik atau Samuel Huntington dengan tesis benturan antar peradaban, lahir dari genealogi prasangka Barat yang memiliki kuasa kepentingan atas dunia Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Di sinilah kritik Edward Said kembali relevan mengenai orientalisme (1978), bahwa Timur dipandang sebagai &lt;i&gt;yang lain&lt;/i&gt; dan akhirnya menjadi &lt;i&gt;truth claim&lt;/i&gt; untuk menyusun beragam teori, deskripsi politik, dan sebagainya. Orientalisme akhirnya menjadi proyek historis-materialis sebagai jenis pengetahuan Barat yang mempunyai tujuan mendominasi, merestrukturisasi, dan mendatangkan kekuasaan atas Timur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Sebuah buku berjudul &lt;b&gt;Western State Terrorism&lt;/b&gt; yang dieditori oleh Alexander George, mengkompilasi data-data dari sejumlah penulis, seperti Chomsky, Edward S. Herman, Richard Falk, dan sebagainya, yang menunjukkan bagaimana Barat, terutama AS dan Inggris, menggunakan isu terorisme sebagai alat politik luar negerinya (&lt;i&gt;to employ terrorism as a tool of foreign policy&lt;/i&gt;). Prof. Edward S. Herman, guru besar di &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:placetype&gt;&lt;span&gt;University&lt;/span&gt;&lt;/st1:placetype&gt;&lt;span&gt; of &lt;/span&gt;&lt;st1:placename&gt;&lt;span&gt;Pensylvania&lt;/span&gt;&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span&gt; dan Gerry O’Sullivan menulis sebuah artikel berjudul “&lt;i&gt;Terrorism as Ideology and Cultural Industry&lt;/i&gt;. Mereka menyebut terorisme sebagai industri multinasional, dimana terdapat hubungan erat antara pemerintah, sponsor swasta, institusi-institusi pemikir, cendekiawan, baik di dalam AS maupun utamanya antara AS, &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Israel&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span&gt;, dan Inggris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Semakin biasnya penggunaan istilah &lt;b&gt;teroris&lt;/b&gt; adalah dalam kasus pembantaian sekitar 3.500 pengungsi Palestina (termasuk wanita dan anak-anak) di Shabra-Shatila pada 1982. Pembantaian itu jelas dilakukan oleh Tentara Kristen Phalangis dengan pemantauan penuh &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Israel&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span&gt;. Namun, &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Israel&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span&gt; sama sekali bebas dari cap sebagai negara teroris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Mengikuti perjalanan sejarah terorisme, mulai dari aksi-aksi bom bunuh diri hingga yang terbaru kemaren, peledakan dan penyanderaan di Hotel Taj Mahal, Mumbai, Rabu malam (&lt;/span&gt;&lt;st1:date year="2008" day="26" month="11"&gt;&lt;span&gt;26/11/2008&lt;/span&gt;&lt;/st1:date&gt;&lt;span&gt;) lalu, mengusik diri setiap orang dengan suatu pertanyaan seragam: apa yang melatarbelakangi pelaku teroris tersebut? Benarkah mereka melakukan tindakan tersebut semata-mata karena alasan ideologis semata atau adakah alasan lain di luar itu?. Meskipun pertanyaan ini sederhana, namun jawabannya tidaklah mudah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, Satu hal yang harus kita akui bahwa, jika terorisme sekadar dikaitkan dengan ideologi atau agama tertentu, dengan melihat aksi-aksi terorisme yang terjadi di negara-negara Asia serta di dunia ketiga semisal Indonesia, pendapat tersebut sangat tidak relevan. Terorisme adalah sebuah kejahatan terorganisasi, lintas negara, yang kebetulan menunggang kepentingan sebuah ideologi dan bersembunyi di balik kedok agama. Karena pada dasarnya setiap agama menganjurkan pemeluknya menghindarkan kekerasan dalam penyelesaian suatu masalah, maka adalah sesat jika para teroris itu menyebut aksinya sebagai perintah agama, apalagi diklaim sebagai syuhada’ bagi pelaku teror yang mati saat melakukan teror bom bunuh diri atau mati karena dieksekusi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Kedua,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; mengkritisi ulang akan dominasi pendekatan kebudayaan terhadap konflik-konflik Muslim-Barat, bahwa konflik-konflik itu tak dipicu oleh identitas budaya, agama atau peradaban, tetapi oleh sebuah kalkulasi kepentingan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Seyogyanya pilihan untuk menggunakan kekerasan atau teror itu bukan merupakan cermin dari faktor ideologi, agama atau kultural. Tapi merupakan cermin dari faktor kalkulasi strategis atau kalkulasi kepentingan. Artinya, jika sebuah kelompok memilih untuk menggunakan pendekatan kekerasan atau kedamaian, maka bergantung pada kalkulasi insentif dan disinsentif atas tiap-tiap pendekatan tersebut. Perlawanan dan metodenya sering ditentukan oleh kalkulasi tersebut, tidak hanya kalkuasi ideologi, agama dan kultural.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Hal ini bisa kita lihat pada hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan kelompok mujahidin Afghanistan. Berbagai kelompok oposisi Afghanistan ini sebelumnya berada dalam barisan yang sama dengan AS saat berperang melawan pendudukan Soviet di Afghanistan pada tahun 1980-an. Saat itu, AS memandang kelompok ini sebagai pejuang kemerdekaan atau pahlawan. Tetapi kini, sebagian dari kelompok ini malah berperang melawan AS, kekuatan pendudukan baru. Sehingga AS dengan tanpa pandang bulu, men-cap kelompok ini sebagai teroris. Cara pandang masing-masing pihak ini terhadap tantangan, kepentingan, dan posisi masing-masing membuat mereka bersekutu atau bermusuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Ketiga,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; istilah &lt;i&gt;clash civilization&lt;/i&gt;-nya Samuel P. Huntington itu terlalu dipaksakan. Seakan-akan ada sebuah situasi konflik yang spesifik antara Muslim dan Barat. Pada hal konflik-konflik yang dinyatakan sebagai benturan peradaban tak pernah menyangkut agama semata. Hal ini bisa kita lihat pada Perang Salib, selain agama juga memiliki kepentingan politik dan tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina ini pernah mengungkapkan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah berbagai bentuk polarisasi yang selalu muncul sepanjang sejarah manusia. Baik polarisasi budaya, ideologi, ras, dan agama. Sedangkan polarisasi itu sendiri merupakan bagian dari fitrah kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Meskipun demikian, motif-motif ideologis atau agama itu tentu ada tetapi hanya berjalan di tingkat mikro atau yang biasa disebut dengan motif-motif individual. Agama atau ideologi hanya alat yang dibajak untuk merekrut, memotivasi, serta menciptakan solidaritas para pelaku sebagai legitimasi. Konflik-konflik itu didengungkan sebagai konflik yang bersifat ideologis atau religius untuk menginspirasi para pengikut, melegitimasi perang sebagai &lt;i&gt;just war&lt;/i&gt;, menarik sekutu, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, dalam kerangka pemahaman terhadap wacana ini, maka penting menggunakan &lt;i&gt;analisa strategis rasional&lt;/i&gt; yang tujuannya adalah untuk mengetahui potensi konflik kekerasan yang mungkin timbul, sehingga bisa segera menemukan cara pencegahannya. Jika hanya menggunakan pendekatan kultural (c&lt;i&gt;ultural approach&lt;/i&gt;), sebuah pendekatan yang melihat tindakan seseorang atau kelompok dipengaruhi oleh variabel-variabel &lt;i&gt;psiko-religius-kultural, &lt;/i&gt;&lt;span&gt;maka dimungkinkan hanya &lt;/span&gt;akan berputar-putar saja, tanpa mengetahui bagaimana cara menangani konflik tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Kelima, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;penggunaan ideologi, kebudayaan, dan agama hanya sebagai senjata ampuh dalam menciptakan solidaritas dan integritas yang tinggi. Ini terjadi karena ketransendentalan dan kemesiahannya yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan di luar dirinya. Ketika tujuan di luar dirinya itu tercapai, ia bisa dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan strategis lainnya. Jika kemudian terjadi perubahan-perubahan geopolitik maka tidak impossibel merubah sekutu menjadi musuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;Dua mata memahami Barat dan Timur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Ada hal yang menarik saat ini, dan ini juga bisa dikatakan peluang karena antara islam di barat dan barat di Islam masing-masing mempunyai ruang dialog. Islam sedang tumbuh dan hadir di pusat-pusat peradaban yang menonjol, seperti di kota-kota utama Amerika atau Eropa. Meskipun sebagai minoritas, Muslim di sana harus mampu menunjukan kepribadian yang baik, menegosiasikan nilai-nilai Islam melalui bahasa peradaban tuan rumah, menjadi bagian dari kekayaan peradaban tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Demikian pula yang dialami oleh orang-orang Barat yang tinggal di negara-negara Muslim (Timur). Di tangan duta besar masing-masing elemen inilah masa depan hubungan Muslim dan Barat terletak, karena mereka memiliki posisi istimewa untuk menjadi bagian dari masyarakat Muslim maupun Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Sedangkan persepsi, paradigma, penafsiran, serta corak pemikiran Barat atas Islam yang kurang sedap harus secepatnya didekonstruksi. Hakikatnya, kegagalan Barat yang memandang sebelah mata terhadap Islam, sejatinya merupakan kegagalan proses dialog. Akibat kesalahan dialog tersebut akhirnya menyimpan prasangka yang berlebihan serta menggeneralisasi realitas umat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Jadi, sebagaimana diktum Akh. Muzakki saat diskusi Team Manhaj kemaren, bahwa representasi barat terhadap Timur, begitu pula sebaliknya, akan menuai hasil positif. Implementasi opini ini dalam skala kecil akan memandang bahwa terorisme di berbagai belahan dunia, termasuk teror di Hotel Taj Mahal, Mumbai, yang notabene sebagai pusat perekonomian India, tidak akan dipandang sebelah mata, banyak kalkulasi kepentingan yang perlu dianalisis bersama. Jika interpretasi terorisme sebagai kejahatan timur terhadap barat, lantas disebut apakah kejahatan yang dilakukan barat terhadap Timur?.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;* Penulis adalah koodinator Lingkar Pena Mahasiswa Surabaya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-8065927962506441289?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/8065927962506441289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=8065927962506441289' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/8065927962506441289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/8065927962506441289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2009/03/opinikeislama.html' title='Rumah Opini_01'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-3970417132253776561</id><published>2009-03-28T03:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T22:02:03.894-07:00</updated><title type='text'>Rumah Puisi_02</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;SAYONARA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pagi yang buta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Gerimispun berkata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada langit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dingin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hening, mencekam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kudekap tubuhmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengan bibir yang gemetar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lalu kau berucap:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”Aku telah kehilangan tubuhku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku telah kehilangan eksistensiku”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku tertunduk, pilu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kubelai rambutmu yang basah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun hatimu gelisah, pasrah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seraya berkata:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sayonara...Sayonara...Sayonara...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku akan meninggalkanmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kenanglah aku dalam diammu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sejenak....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ia menghilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kelam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lalu, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Akupun tenggelam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Surabaya, 01 Januari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;REFLEKSI TAHUN BARU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pernahkah kau berpikir &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;bahwa bumi adalah bulat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seperti halnya roda yang tak ada ujungnya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tapi disitulah kita mengais sampah kehidupan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengemis kebijaksanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menuntut keadilan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menagih janji-janji penguasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ah, Semua itu hanya slogan kosong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka semua pembohong!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pernahkah pula kau berpikir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bahwa di dalam kebulatan itu ada sebuah bundaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang menjadikannya hidup penuh liku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Penuh benalu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hingga rakyat kecil tertipu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sementara mereka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hanya tersipu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hanya membisu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengan kekuasaannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang tak bermutu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lihatlah...!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bulatnya bumi adalah bundar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bundar di bumi yang bulat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bulat di bumi yang bundar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tapi, semuanya telah terlambat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hingga akhirnya mereka tak bermartabat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Surabaya, 01 Januari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;KUKENANG DIRIMU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;- &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Untukmu Kaum Tertindas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kukenang dirimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di bawah hamparan langit tak berawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Senyum manismu takkan mampu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Membuka pintu keraguanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pancaran kasihmu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Telah membuatku terbakar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;dalam api kebencian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kukenang dirimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di kedalaman samudra tak berair&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Airnya telah berubah menjadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pasir-pasir kerakusan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;yang berceceran &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;di lembah ilusiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kuakui, otakmu memang cerdik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun........&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hatimu licik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ribuan manusia telah kau cekik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;dengan jemarimu yang lentik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lihatlah….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku telah menemukan jalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di atas jalan yang kau tempuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jalan itu yang nantinya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Akan mengantarkanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada kebahagiaan abadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Surabaya akhir 2008&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;PUTERI REMBULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku hanya bisa melihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bidadari itu berjalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di tikungan zaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mencari arah datangnya sebuah angan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang tak pernah ia bersihkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku hanya bisa melihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bidadari itu berjalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengan penuh kegamangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menelusuri lorong- lorong kegelapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tuk sekedar mencari kepastian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang tak pernah ia impikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku hanya bisa melihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bidadari itu menatapku tajam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengan langkah gontai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengan tangan melambai-lambai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lalu, ia mengajakku diam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam kelam yang menyelimuti malam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Oh, inikah puteri rembulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang kumimpikan semalam? &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Bisikku&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;akhir &lt;/span&gt;&lt;span&gt;2008&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI HALNYA AIR SUNGAI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku mencintaimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seperti halnya air sungai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengalir tanpa lelah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengelilingi hasrat bebatuan yang terpendam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di tikungan zaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku mencintaimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seperti halnya air sungai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengalir deras diantara celah bumimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang gersang dan kering&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku mencintaimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sepereti halnya air sunngai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengalir mengisi ruang-ruang yang kosong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seperti halnya apakah ketika keduanya menyatu??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Surabaya&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;akhir 2008&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-3970417132253776561?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/3970417132253776561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=3970417132253776561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3970417132253776561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3970417132253776561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2009/03/pahatan-kalbu_28.html' title='Rumah Puisi_02'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-1050262726739144843</id><published>2009-03-28T03:25:00.001-07:00</published><updated>2009-05-16T21:59:07.082-07:00</updated><title type='text'>Rumah Opini_02</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;SPIRIT KEAGAMAAN YANG BERBEDA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Sungguh perkataan kami akan menyisakan kematian, ketandusan, sama sekali tanpa nafsu, hingga kita meninggal sebagai akibat dari perkataan ini, lalu sesudah itu perkataan ini tiba-tiba akan bersemi kembali dalam kehidupan dan hidup di antara hati-hati yang mati, membawa mereka dalam kehidupan juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span&gt;(Sayyid Qutb)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di Lebanon, perang agama antara muslim dan Kristen menyebabkan perang saudara pada 1975 yang berlangsung lebih dari satu dekade. Orang-orang Lebanon lebih mengidentifikasi diri dengan kelompok keagamaan mereka ketimbang dengan negara mereka. Begitu lemahnya ikatan nasionalisme di Lebanon (Shireen T. Hunter: 2001).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pendapat Thomas Lippman mungkin ada benarnya, tidak satu kebangkitan Islam yang meliputi seluruh dunia, tetapi merupakan serangkaian pergolakan-pergolakan yang bersifat koinsidental ketika Islam merupakan ekspresi yang umum dari ketidaksepakatan politik. Pluralisme yang terdapat dalam Islam juga menjadi salah satu penyebab beragamnya tafsiran akan kebangkitan Islam. Begitu juga yang terjadi dengan solidaritas jihad untuk Timur Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jihad oleh Shireen T. Hunter dimaknai tidak hanya untuk bertahan ketika diserang. Tujuan jihad adalah menaklukkan semua halangan yang mungkin menghambat penyiaran Islam ke seluruh dunia, yang meliputi negara, sistem sosial, dan tradisi-tradisi asing, saat para mujahidin akan melakukan jihad yang komprehensif, termasuk menggunakan kekerasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Karena kewajiban jihad melibatkan kesyahidan, umat Islam harus siap berkorban karena kemenangan hanya bisa terwujud dengan menguasai "seni kematian". Definisi tersebut seolah Islam mengajarkan sikap ofensif dan progresif dengan anarkisme sebagai salah satu jalannya dalam mendakwahkan Islam. Tetapi, jika dipahami betul, progresivitas Islam adalah dalam rangka menyebarkan rahmatan lil'alamin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Karena muara dari dakwah Islam adalah cinta kasih terhadap semesta, "kekerasan" juga bertujuan menjaga tali kasih sayang terhadap sesama. Jika Israel dengan arogansinya meluluh-lantakkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian, genderang perang untuk menandingi kekuatan lawan harus ditabuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tentunya dibarengi perencanaan strategi yang matang. Artinya jihad fi sabilillah yang dikobarkan kelompok Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia harus mempertimbangkan aspek maslahatul ummah. Jika ghirah jihad hanya menuruti nafsu primordialisme agama, sesungguhnya tidak memberikan kontribusi apa-apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Apakah jihad yang dimaksud ikut terlibat medan tempur ataukah bergerak di bidang kemanusiaan yang menyelamatkan kesehatan dan nyawa tentara dan rakyat sipil di Lebanon. Sejatinya, jihad Islam juga harus berlandaskan pada lima prinsip syariat (kulliyatul khomsah), yaitu menjaga agama (hifdzud dien), menjaga jiwa (hifdzun nafs), menjaga akal (hifdzul aql), menjaga harta (hifdzul mal), dan menjaga keturunan (hifdzun nasl).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Spirit jihad adalah spirit untuk menjaga dan menyelamatkan kelima prinsip utama tersebut. Wajar jika yang berjihad juga dituntut lebih dulu menjaga dan mempertimbangkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam konteks ini sebenarnya telah jelas batas antara terorisme dan jihad yang sering dimaknai ambivalen oleh pihak Barat. Membela dan mempertahankan keadilan (al adalah), kebahagiaan (as sa'adah), dan kesetaraan (al musawah) adalah hak asasi setiap manusia baik sebagai subjek agama maupun sebagai subjek negara demi cita-cita perdamaian dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Terorisme adalah arogansi yang memusnahkan kehidupan orang lain, bangsa lain tanpa alasan yang logis. Nafsu menguasai dan dominasi yang membuat buta akan makna kehidupan, buta kasih sayang dan matinya signal dengan Tuhan Sang Pencipta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kesadaran akan makna jihad yang melahirkan perdamaian hendaknya juga didialogkan dengan pihak Barat. Karena tidak semua Barat sepakat dengan Israel dan Amerika yang adi kuasa. Dan tidak semua Israel dan Amerika mengumbar kebengisan terhadap negara-negara Arab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sesungguhnya Islam tidak di Timur dan juga tidak di Barat (la syarqiyah wala gharbiyah). Sehingga spirit jihad yang menyadarkan umat manusia di berbagai negara di dunia akan menyelesaikan krisis di Timur Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam ranah ini, terorisme memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan: aksi dan ideologi. Drama teror ini menampilkan dua tokoh: aktor sebagai eksekutor aksi teror dan aktor intelektual yang membangun basis ideologi teror. Nah, ideologi teror tersebut ditanam oleh aktor-aktor intelektual yang sangat mahir memainkan ayat-ayat Tuhan untuk menggiring pemuda-pemuda tak berdosa sebagai pelaku terorisme. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Oleh karena itu, ulama ibarat pisau yang memiliki peran ganda: memotong kue bolu, atau menikam untuk membunuh. Di negara manapun, ketika marak terjadi aksi terorisme, pemerintah setempat menyerukan agar ulama-ulama agama berperan memerangi terorisme. Di Saudi Arabia ulama-ulama telah mengharamkan “bom bunuh diri”. Di Jordania, khatib-khatib Jumat diserukan mengutuk terorisme dan menyiarkan Islam yang damai. Demikian juga di Mesir, Pakistan, dan termasuk di Indonesia. Sebab-musabab seruan terhadap ulama itu -untuk memerangi terorisme- karena &lt;i&gt;mafhum mukhalafah&lt;/i&gt; (pemahaman terbalik): tidak sedikit dari ulama-ulama itu menjadi aktor intelektual dan mendukung terorisme. Seorang teroris dipastikan memiliki guru, dan balai pendidikan yang membentuk jiwa, pikiran, dan menunjukkan jalan terorisme itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sederhananya, teroris-teroris itu adalah korban dari manusia—yang disebut ulama—tidak bertanggungjawab itu. Anehnya, ulama-ulama kharismatik itu hanya berani membakar kemarahan dan kebencian umat, tanpa memiliki keberanian berada di garis terdepan dengan membawa bom. Jangankan meledakkan dirinya, anak-anaknya pun tidak diajari untuk menjadi teroris dan melakukan pembunuhan. Mereka cukup mempengaruhi santri, tetangga, dan orang lain untuk melakukan aksi-aksi kekerasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Maka dari itu, seorang ulama memiliki peran vital terhadap terorisme. Peran itu dimulai, bagaimana mereka meracik dan menyuguhkan agama ada umat. Jika mereka menyuguhkan agama sebagai ajaran kebencian dan kekerasan, maka, agama akan menjadi kekuatan terorisme mahadahsyat. Agar tetap menarik dan laku, agama dikemas dan dipromosikan melalui pengajian, khutbah, pengkaderan, dan diiming-imingi janji-janji: mati syahid, kenikmatan kehidupan sorgawi dan menikahi bidadari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun jika ulama konsisten mengemas dan menyuguhkan agama sebagai ajaran perdamaian, kerukunan, dan antikekerasan, maka, terorisme dan aksi-aksi kekerasan itu akan dianggap berlawan dengan ajaran agama itu sendiri. Diakui atau tidak, sebagai doktrin, setiap agama memiliki benih intoleran dan kekerasan. Misalnya: ada ayat-ayat perang dalam Al-Quran. Namun seorang ulama, tidak cukup hanya “membacakan”, dia harus memiliki keberanian untuk melakukan “pembacaan” dan “pengkajian”. Setiap agama harus disiangi dari rumput dan gulma kekerasan, sehingga agama menjadi lahan subur bagi perdamaian dan kerukunan umat manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jihad, tidak bisa didefinisikan sekedar berperang. Pemahaman tersebut telah melakukan “pengerdilan” terhadap ajaran jihad yang agung. Menurut seorang ulama kharismatik Syria, Dr. Muhammad Sa’id Ramadlan Al-Buthi, dalam bukunya al-Jihad fi al-Islam jika jihad diidentikkan sebagai perang, maka ajaran jihad akan kehilangan makna yang sebenarnya dan segala macam variasinya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="ES-PA"&gt;Al-Quran sendiri tidak secara definitif memaknai jihad sebagai perang. Al-Quran menggunakan istilah al-qitâl sebagai padanan perang. Sementara jihad tetap kaya dengan multimakna dan multibentuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="ES-PA"&gt;Dalam surat Al-Furqan ayat 52 yang turun di Makkah disebutkan, Karena itu janganlah turut orang yang kafir, dan berjihadlah melawan mereka dengan jihad yang besar. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai; “jihad besar” (jihâd kabîr) ini? Menurut Ibn Abbas, konotasi jihad dalam ayat itu adalah dengan “Al-Quran”, menurut Ibn Zayd dengan “Islam”, dan ada yang berpendapat dengan pedang alias perang. Namum Al Qurthubi dalam tafsirnya al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân (1995: 56) menolak keras pendapat terakhir; “jihad dengan pedang”, karena ayat ini turun di Makkah, jauh sebelum turun perintah perang. Sedangkan makna “jihad yang besar”, menurut Al-Zamakhsyari dalam besutannya, Tafsîr al-Kasysyâf (1995: 278) mencakup segala bentuk perjuangan (jâmi`an likulli mujâhadah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seorang ulama fikih klasik Syatha’ al-Dimyati dalam “kitab kuningnya” I’ânah al-Thâlibîn mendefinisikan jihad sebagai aksi menolak marabahaya dan kekacauan serta berjihad untuk kemakmuran dan kesejahteraan: sandang dan pangan (&lt;i&gt;daf`u dlararin ma’shûmin min muslimin jâ’i`in aw `ârin wa nahwihimâ&lt;/i&gt;). Jika mau konsisten, perang malah diperbolehkan oleh al-Quran untuk melawan “fitnah”: perangilah mereka sampai tiada lagi (timbul) “fitnah” wa qâtilûhum hattâ lâ takûna fitnah (QS al-Baqarah: 193). “Fitnah” di sini menurut mayoritas ulama tafsir bermakna segala kekacauan akibat, pengusiran, perampasan, dan pembunuhan. Kekacauan yang menebarkan ketakutan dan rasa tidak aman. Fitnah adalah terorisme. Jihad melawan terorisme berarti jihad melawan kekacauan yang berakar pada “fitnah” tadi. Sementara ulama adalah artikulator, penafsir: “lidah” agama, namun bukan berarti seperti Si Pahit Lidah, yang kerjanya, cuma mengumbar kebencian, dan kutukan. Karena agama bukan ancaman dan kutukan. Tantangan terbesar bagi ulama untuk, tidak hanya dituntut menjalankan agamanya secara benar, tapi juga menjaga agar agamanya tidak “dibajak” menjadi amunisi untuk membunuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-1050262726739144843?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/1050262726739144843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=1050262726739144843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/1050262726739144843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/1050262726739144843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2009/03/opinikeislaman.html' title='Rumah Opini_02'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-3503625769829584859</id><published>2009-03-28T03:21:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T21:53:37.426-07:00</updated><title type='text'>Rumah Cerpen_01</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;SEPENGGAL TAKDIR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Awan mendung bertiup dan mulai bergemuruh di langit yang sebelumnya biru. Kilat dengan serta merta menyambar turun ke Bumi, dan baru beberapa detik kemudian suara &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;guntur&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt; terdengar―menggelegar bagai dentuman meriam langit atau letusan gunung berapi yang memuntahkan magma serta debu vulkanik jauh ke angkasa. Tak sampai di situ saja pengaruhnya; awan itu juga menebar teror kegelapan dan seketika langsung merasuk, juga mencengkeram dengan membonceng ketakutan, hingga dapat melelehkan kebahagiaan yang tersimpan dalam frame-frame kenangan masa lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di padang rumput itu, seorang pria berdiri kokoh bagai patung di tengah kota. Di atas sebuah bukit kecil, di mana sepasang kakinya sejak tadi menapak—mengakar. Ia menatap ke langit, ke sebuah gumpalan awan yang makin menghitam tiap detiknya. Fisiknya yang tinggi dan ramping terlihat samar saat sekelebat cahaya petir menyambar dengan gila, merambat pada sela-sela udara yang berubah dingin. Rambutnya pendek dengan potongan rapih di tiap ujungnya dan bergerak lembut saat terbelai angin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Kau tidak adil padaku?” teriaknya entah kepada siapa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mungkin ditujukan kepada salah satu gumpalan awan di atas sana atau petir, atau bahkan untuk Sang Khalik pemilik segalanya—di mana wujud-Nya tak akan pernah nampak oleh sepasang indera yang dinamakan ‘mata’ itu. Tak akan mungkin. Tidak mungkin ada organ bahkan alat buatan makhluk manapun yang bisa melakukannya. Kecerdasan manusia itu terbatas. Semua telah diatur dalam sekat-sekat sel yang ada di otak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Mengapa Kau ciptakan takdirku seperti ini? Nasibku merana menjadi hamba terhina. Apa Kau tidak mendengar sebutan mereka padaku? Mereka bilang kalau aku ini tidak berguna, lemah, bodoh, goblok, tolol, monyet atau apalah istilah mereka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kelopak matanya basah lalu mengeluarkan pilu yang menurut bangsa keturunan primata seperti manusia, dinamakan ‘air mata’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Di mata mereka, aku ini sangat rendah. Lebih rendah dari sampah. Cacat. Tak pantas berada di antara mereka,” jelasnya terisak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Sesungguhnya, mereka itu salah. Kau bisa lihat sendiri. Tak ada kecacatan dari fisik yang Kau ciptakan ini. Semua organku lengkap, otakku juga masih betah bersemayam di kepala, dan hati serta jantungku juga tetap pada tempatnya. Sama seperti mereka. Lalu mengapa mereka terus saja memanggilku seperti itu? Merendahkanku di muka umum? Apa yang salah pada diriku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengan punggung tangan, ia mengusap matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Mengapa Kau tetap diam? Apa Kau bisu? Tuli? Katanya, Kau selalu mendengarkan keluh-kesah semua hamba-Mu. Mana buktinya? Mana? Omong kosong. Semua itu ternyata bohong.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ia diam sesaat, mencoba mengatur tingkat emosi yang semakin meluap-luap dalam dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Jika Kau memang adalah Sang Penguasa—raja di atas segala raja, buktikan padaku!” teriaknya makin kencang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Tunjukkan kekuatanmu! Mana kekuasaanmu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ia menghela napas sekali, seakan ingin menyampaikan sebuah ultimatum yang harus terlaksana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Aku ingin punya sayap. Sayap indah yang bisa membuatku terbang dan tak lagi mendengarkan sebutan merendahkan mereka kepadaku. Aku ingin menjauh dari koloni mereka. Menjauh sejauh-jauhnya. Aku ingin terbang. Terbang seperti burung yang bebas di angkasa. Setinggi-tingginya hingga mencapai puncak awan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pagi itu matahari belum menampakkan semburat sinarnya dari kejauhan ufuk timur. Tampaknya sang surya masih terlelap di peraduan angkasanya. Kabut semi transparan juga masih menguasai sebagian badan jalan di salah satu daerah paling padat penduduk di kota Jakarta. Tetes embun belum memuai menjadi uap air dan menyatu dengan udara, menyebabkan udara makin lembab. Sayup angin seakan menguak sebab keheningan di beberapa lorong sempit di perumahan tersebut. Makhluk-makhluk belum menampakkan diri. Masih bersemayam di balik selimut kehangatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jam weker berbunyi nyaring—bergema di salah satu rumah bagai bunyi lonceng emas di puncak kuil Olympus, seakan meramalkan kejadian mengerikan yang nanti akan terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ketika selimut disibakkan, tubuh setengah telanjang ada di baliknya. Deretan tulang rusuk tercetak di sana, bagai urat yang menonjol dari balik kulit. Laki-laki itu membuka mata. Sedikit demi sedikit, suasana sekitar mulai tertangkap oleh inderanya, menampilkan susunan langit-langit kamar berwarna putih dengan lampu ber-watt kecil yang masih menyala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Sudah pagi rupanya,” gumamnya sembari tersenyum saat kesadarannya tengah memulihkan diri. Kantuk yang masih terasa, ia paksa pergi dan menghilang. Sekarang waktunya melanjutkan hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sebelah tangannya mengambil weker yang ada di meja. Tombol weker yang ada pada bagian atas ia tekan, menyebabkan suara deringan benda itu berhenti seketika. Ia melihat jarum jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Weker diletakkan lagi ke tempatnya semula, sembari ia mencoba membangunkan tubuhnya yang masih malas bergerak. Digaruknya beberapa bagian tubuh hingga puas lalu dengan jari-jari tangan, rambutnya yang berantakan disisir seadanya. Sebagian ke samping kiri dan sebagian lagi ke samping kanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sejenak, laki-laki itu menggeliat keenakan lalu menguap bagai sang penguasa rimba. Setiap bukaan mulutnya bagai menghisap ion-ion kehidupan yang ada di tempat itu hingga tak bersisa. Rakus sekali. Biasalah, manusia memang cenderung seperti itu. Tak puas atas apa yang telah dimilikinya. Ingin terus menambah, menambah, dan menambah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sinar matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai penutup jendela. Cahayanya menghangatkan kulit dan mencairkan keheningan. Seolah-olah kehidupan mulai tersusun kembali setelah tidur sekian lama, setelah berhibernasi dalam kegelapan. Menciptakan peradaban baru ke arah yang lebih baik. Semoga saja...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Mimpi tadi benar-benar aneh. Aku seolah-olah berbicara kepada Tuhan. Bagaimana mungkin?” Lelaki itu nyengir sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Tidak masuk akal.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun jauh di lubuk hatinya, ia bener-benar menginginkan hal itu terjadi. Mimpi tadi seolah-olah mencerminkan isi hatinya. Menggambarkan kalut yang selama ini menyiksa batin dan jiwanya. Ia tak bisa berbohong lagi. Walau hanya di dalam mimpi, ia telah puas. Yang jelas, ia telah menumpahkan suara hatinya. Lainnya, tak penting. Hari ini harus dijalani dengan perasaan bahagia. Tak ada beban sedikit pun yang lagi menghinggap. Telah hilang dan menguap bersama embun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ketika ia berdiri, sesuatu seperti begoyang dari punggungnya—bergerak-gerak. Ia merasakan keanehan pada daerah itu. Kepalanya coba ditengokkan ke belakang. Secara reflek tangannya ikut membantu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“A... apa ini?” teriaknya kaget. “Mengapa benda ini bisa melekat di tubuhku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sepasang sayap kecil bergerak-gerak mengikuti gerakan punggungnya. Mengibas-ngibas bagai sayap burung yang terbang bebas di angkasa. Sepasang sayap itu berwarna hitam namun tak berbulu. Lembut dan menyerupai daging yang terbalut kulit dengan beberapa tonjolan tulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“I... ini sayap kelelawar,” gumamnya ketakutan. “A... apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Mengapa... mengapa sepasang sayap menakutkan ini tumbuh di punggungku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengan paksa, ia mencoba melepaskan sayap itu. Sekuat tenaga. Namun setiap upaya untuk menarik sayap itu agar terlepas dari tubuhnya, membuat kulitnya sakit. Kulit punggungnya seperti tertarik dan hampir sobek. Hal itu sia-sia saja. Sayap itu telah bersatu dengan tubuhnya dan menjadi bagian atas dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ia tak terima. Tangis dan teriakan tak ada gunanya. Semua itu tak bisa mengembalikan tubuhnya ke kondisi semula—normal kembali. Ia merenung beberapa menit ke depan ketika matahari kian meninggi. Sedikit demi sedikit ia bisa menerimanya walau tak sepenuhnya. Ia masih tak tahu harus berbuat apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mungkin ini pengaruh dari mimpi itu. Aku benar-benar berbicara kepada Tuhan, gumamnya dalam hati antara percaya atau tidak. Dengan kesadaran yang telah kembali, ia berkata setengah berbisik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“Hidup harus dilanjutkan. Tak ada gunanya penyesalan. Tapi...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dua puluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi. Mencari alat untuk menutupi sepasang sayap itu agar tidak kelihatan. Diambilnya gulungan perban kemudian dililitkannya benda itu ke punggungnya. Terus, terus dan terus, hingga tonjolan sayap itu tak tampak. Setelah selesai, lanjut ia mengenakan baju dalam lalu kemeja yang dikombinasikan dengan dasi berwarna hitam bergaris. Semua kostum formal itu diberi sentuhan terakhir dengan balutan jas. Ia berdiri di depan cermin, memperhatikan sejenak penampilannya lalu berputar beberapa kali. Walau tubuhnya terlihat sedikit bungkuk karena tulang punggungnya menonjol keluar bagai pasak, tapi tanda bahwa itu adalah sayap tak terlihat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku terlihat seperti manusia normal kembali dan topeng ini akan membuatku menyerupai mereka. Bibirnya dipaksa mengurai senyuman. Ditepuknya bagian jas yang terlihat berdebu, simpul dasi dirapihkan dan disembunyikan di bawah kerah kemeja lalu setelah semua sesuai dengan keinginannya beberapa menit kemudian, pria itu mengambil tas kerja lalu keluar dengan langkah terburu-buru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-3503625769829584859?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/3503625769829584859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=3503625769829584859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3503625769829584859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/3503625769829584859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2009/03/sepenggal-takdir-awan-mendung-bertiup.html' title='Rumah Cerpen_01'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-8386408368091327938</id><published>2009-03-28T03:12:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T22:00:40.965-07:00</updated><title type='text'>Rumah Puisi_03</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;MATA AIR AIRMATA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada mata airmu yang hening&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada airmatamu yang bening&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ijinkan sejenak mataku memandang kepiluanmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;tanpa berkedip&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hingga menembus ke dalam celah-celah sungai Nil-mu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;yang mulai mengering&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Februari, &lt;span&gt;&lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;SEBELUM KAU PERGI&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebelum kau pergi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ku ingin kau tersenyum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Di depan mataku yang rapuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Agar nantinya kau tak sedih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika menapaki jalan yang terjal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;dan penuh liku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebelum kau pergi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ku ingin menuliskan lembaran kisah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada lembayung sukma jauh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Agar ia menjadi saksi bahwa babad hari ini telah mengalun perih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;diantara kebisuan yang lestari,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;bersimpuh manis dalam dekapan mimpi dan sejarah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan esok seolah gaib yang tertata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;yang tak tembus oleh hati, mata dan airmata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebelum kau pergi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ku ingin mengenangmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;dan terus mengenagmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hingga malaikat itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;hinggap di pangkuanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;dengan sebait sabda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;yang tak bernada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Februari, &lt;span&gt;&lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;KEPADA AIR&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hasratku mengalir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Di antara celah bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;yang kau pijak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Anganku menetes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Di atas kedalaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Lautan kasihmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ku ingin hasratmu mengalir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada anganku yang berair&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Februari, &lt;span&gt;&lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH PENGKHIANATAN&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kau tersenyum seperti iblis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang berhasil membius manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;dengan segelas anggur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Menghapus manis sentuh bibir yang pernah kau kecup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;mengurai cinta yang erat ku balut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;hingga lelah letih meredup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kau goreskan kepedihan di setiap harapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kau redupkan angan di setiap impian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hingga aku terhuyung arus penderitaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ku akui….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kau memang tawaddhu’, tertunduk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tapi jidadmu bertanduk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Otakmu sangat cerdik, tapi hatimu licik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jutaan manusia telah kau cekik dengan jemarimu yang lentik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Februari, &lt;span&gt;&lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;SKEPTIS&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Malamku pilu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Siangku penuh liku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Malam siangku bisu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Engkaupun terharu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Siangku kelu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Malamku semu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Siang malamku menunggu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hingga wajahmu membiru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tuhan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jangan panggil aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika dosaku seperti debu!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Februari, &lt;span&gt;&lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;REMBULAN MERAH&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tuhan, Rembulan itu tampak memar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Di atas jembatan takdirku yang &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;malang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Februari, &lt;span&gt;&lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN SEJARAH&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kau pernah menuturkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Bahwa kereta tua itu peninggalan sejarah masa silam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang di dalamnya tersimpan hentakan tetes waktu yang tak pernah berhenti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;setiap tetesnya menoreh sejarah kehidupan baru dan kematian setiap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;makhluk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kau pula pernah menuturkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Bahwa kereta tua itu terlalu mesra terjebak dalam sketsa masa lalu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hingga kini ia harus terjerembab dalam sampah peradaban&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Siapa peduli mengais cerita kesengsaraan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Bila kau merenungkan bahwa sejarah masa silam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Mengaung syahdu diantara kepalan-kepalan takdir yang telah dikebiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Semuanya telah tergadaikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Lagu kebangsaan tak lagi kebanggaan. Ia justru menjerit dalam kebangkrutan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Februari, &lt;span&gt;&lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-8386408368091327938?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/8386408368091327938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=8386408368091327938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/8386408368091327938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/8386408368091327938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2009/03/pahatan-kalbu.html' title='Rumah Puisi_03'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6940792440265336391.post-2350595525384686793</id><published>2008-05-06T13:04:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T22:02:46.941-07:00</updated><title type='text'>Rumah Puisi_01</title><content type='html'>&lt;strong&gt;KIDUNG KENABIAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlahir dari sebuah kidung kenabian&lt;br /&gt;Mengarungi samudra kehidupan&lt;br /&gt;yang tak pernah nayata&lt;br /&gt;Kehampaan dan penantian&lt;br /&gt;yang kan selalu kuukir&lt;br /&gt;pada langit yang tak lagi biru&lt;br /&gt;pada lautan yang tak lagi biru&lt;br /&gt;Kapankah langit dan lautan itu&lt;br /&gt;akan kembali biru???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LENTERA IMPIAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan lentera&lt;br /&gt;pada lembayung sukma jauh&lt;br /&gt;Pancaran cahayanya mengalir deras&lt;br /&gt;Diantara kelopak matanya&lt;br /&gt;yang anggun&lt;br /&gt;Namun……&lt;br /&gt;Cahaya itu tak mampu&lt;br /&gt;Menuntunku dalam kegelapan&lt;br /&gt;Cahaya itu tak mampu&lt;br /&gt;Menembus ruang keraguanku&lt;br /&gt;Aku diam……&lt;br /&gt;Aku tenggelam……&lt;br /&gt;Dalam impian yang tak pernah&lt;br /&gt;Kumimpikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;di bawah temaramnya sang Rembulan&lt;br /&gt;Surabaya, 03 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KUKENANG DIRIMU&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;- Untukmu Kaum Tertindas&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kukenang dirimu&lt;br /&gt;Di bawah hamparan langit tak berawan&lt;br /&gt;Senyum manismu takkan mampu&lt;br /&gt;Membuka pintu keraguanku&lt;br /&gt;Pancaran kasihmu&lt;br /&gt;Telah membuatku terbakar&lt;br /&gt;dalam api kebencian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukenang dirimu&lt;br /&gt;Di kedalaman samudra tak berair&lt;br /&gt;Airnya telah berubah menjadi&lt;br /&gt;Pasir-pasir kerakusan&lt;br /&gt;yang berceceran&lt;br /&gt;di lembah ilusiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuakui, otakmu memang cerdas&lt;br /&gt;Namun, hatimu penindas&lt;br /&gt;Ribuan hati telah kau tindas&lt;br /&gt;Lihatlah….&lt;br /&gt;Aku telah menemukan jalan&lt;br /&gt;Di atas jalan yang kau tempuh&lt;br /&gt;Jalan itu yang nantinya&lt;br /&gt;Akan mengantarkanku&lt;br /&gt;Pada kebahagiaan abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surabaya, 04 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6940792440265336391-2350595525384686793?l=adie85.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adie85.blogspot.com/feeds/2350595525384686793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6940792440265336391&amp;postID=2350595525384686793' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/2350595525384686793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6940792440265336391/posts/default/2350595525384686793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adie85.blogspot.com/2008/05/pahatan-kalbu.html' title='Rumah Puisi_01'/><author><name>.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02604263408351077838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-RE1MhhWuWDI/TcI_o_SVBJI/AAAAAAAAAG8/yrxqz9QaRiw/s220/27376_1659131724_4771_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
